JAKARTA β Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengisyaratkan adanya potensi penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) dalam waktu dekat. Sinyal ini muncul sebagai respons terhadap harga minyak mentah dunia yang saat ini melonjak hingga menembus angka US$ 115 per barel.
Bahlil menyampaikan hal tersebut saat mendampingi Presiden Prabowo Subianto dalam kunjungan kerja ke Jepang, Senin kemarin. Mengingat pemerintah biasanya mengevaluasi harga BBM setiap awal bulan, kebijakan penyesuaian ini diperkirakan akan mulai berlaku pada 1 April 2026.
Meski ada indikasi kenaikan, Bahlil menegaskan bahwa kebijakan ini hanya akan menyasar jenis BBM non-subsidi (seperti Pertamax atau Dex series) yang dikonsumsi oleh kelompok masyarakat mampu. Langkah ini diambil guna memastikan beban subsidi negara tidak semakin membengkak di tengah fluktuasi pasar energi global.
"Yang berpotensi mengalami penyesuaian adalah BBM non-subsidi, khususnya yang dikonsumsi oleh kalangan masyarakat mampu," tegas Bahlil, Selasa (31/3/2026).
Terkait mekanisme penetapannya, Bahlil menjelaskan bahwa berdasarkan Peraturan Menteri (Permen) ESDM Tahun 2022, skema penetapan harga BBM di Indonesia terbagi ke dalam dua kelompok utama, yakni kategori industri dan non-industri. Menurutnya, harga BBM industri bersifat lebih dinamis karena mengikuti mekanisme pasar secara otomatis.
"Dalam aturan tahun 2022, sudah ada dua formulasi harga. Untuk BBM industri, harganya memang mengikuti mekanisme pasar secara berkelanjutan tanpa pengumuman khusus," jelasnya.
Penegasan ini mengindikasikan bahwa sementara harga BBM industri bergerak fleksibel, penyesuaian pada sektor non-industriβterutama jenis non-subsidiβmasih menjadi perhatian serius pemerintah. Saat ini, pelaku pasar dan masyarakat tengah menanti keputusan resmi terkait besaran penyesuaian tersebut. Fokus utama pemerintah saat ini adalah menjaga stabilitas ekonomi nasional dan memastikan harga tetap terukur bagi konsumen di tingkat nasional.